REVOLUSI AKHLAK – Faktor Terjangkitnya Penyakit Akhlak

Ngaji Bandongan Kitab Ngidzotun Nasyi'in bersama KH. Hakim Annaisaburi, Lc
Bandongan Kitab Ngidzotun Nasyi’in bersama KH. Hakim Annaisaburi, Lc

#2 – Faktor Terjangkitnya Penyakit Akhlak

 

Di zaman sekarang, banyak orang begitu giat menjaga kesehatan fisik, tetapi lupa merawat kesehatan batinnya, khususnya akhlak. Hanya sedikit orang yang benar-benar peduli dan mendapat hidayah dari Allah untuk memperbaiki diri secara akhlak. Padahal jika diperhatikan, hampir semua orang tanpa sadar tengah mengidap penyakit akhlak.

 

Masalah ini tidak hanya muncul secara individu, tapi juga dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam lingkungan keluarga, misalnya, banyak anak yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa sopan (seperti bahasa krama) saat berbicara dengan orang tua. Sebaliknya, orang tua pun kadang kurang memberi teladan, berbicara sembarangan atau bersikap semaunya, hingga wibawa mereka di mata anak jadi luntur.

 

Situasi serupa juga terjadi di dunia pendidikan. Banyak siswa masa kini yang tidak lagi memiliki rasa hormat kepada guru. Mereka tak lagi merasa sungkan atau segan, padahal guru adalah sosok yang seharusnya dijunjung tinggi dan dihormati.

 

Lalu, mengapa penyakit akhlak bisa begitu meluas? Ada dua penyebab utama:

  1. Tidak Menyadari Bahwa Dirinya Sedang “Sakit”

Banyak orang sebenarnya sudah memiliki gejala penyakit hati—seperti sombong, iri, keras kepala, atau suka menyakiti orang lain—tapi mereka tidak menyadarinya. Bahkan ketika dikritik atau diingatkan, mereka malah tersinggung atau marah. Penyakit akhlak berbeda dengan penyakit fisik. Kalau tubuh sakit, biasanya kita sendiri yang merasakan. Tapi kalau akhlak yang sakit, justru orang lain yang lebih dulu merasakannya.

 

  1. Menyadari Mempunyai Penyakit, Tapi Tidak Percaya pada “Dokter Akhlak”

Ada juga orang yang tahu bahwa dirinya punya masalah akhlak, namun enggan menerima nasihat dari orang yang seharusnya bisa membimbing. Hal ini sering terjadi karena mereka melihat bahwa sebagian ustaz, pendidik, atau tokoh agama pun belum menunjukkan keteladanan akhlak yang baik. Maka, penting bagi para santri, calon ustaz, dan pendidik untuk terlebih dahulu memperbaiki diri agar bisa dipercaya oleh masyarakat sebagai penuntun moral.

 

Saat ini, masyarakat sangat antusias menyekolahkan anak-anaknya ke fakultas kedokteran, agar kelak bisa menyembuhkan penyakit fisik. Namun sangat jarang yang berfokus mendidik anak-anaknya agar kelak bisa menyembuhkan penyakit hati dan sosial, yaitu penyakit akhlak.

 

Padahal, untuk apa seseorang memiliki banyak ilmu kalau tidak disertai adab? Karena itu, pepatah Arab mengatakan:

 

“الأَدَبُ فَوْقَ الْعِلْمِ”

“Adab lebih tinggi daripada ilmu.”

 

Artinya, sebelum seseorang menuntut ilmu, ia harus membangun adab terlebih dahulu.

 

Saat ini kita tidak kekurangan orang-orang cerdas, tapi kita kekurangan orang-orang yang berakhlak. Karena itu, harapan besar tertumpu pada para santri. Mereka diharapkan kelak menjadi pelopor perbaikan moral masyarakat. Tapi tentu saja, sebelum bisa memberi pengaruh, mereka harus terlebih dulu membuktikan bahwa mereka layak menjadi panutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Memahami Makna, Sejarah, dan Tatacara Ibadah Kurban

Next Post

MENGENAL TRADISI HAUL DALAM ISLAM

Related Posts
Total
0
Share