Ada manusia yang dikenang karena kekuasaannya, ada yang diabadikan karena ilmunya, dan ada pula yang namanya tetap hidup karena kebaikan akhlaknya. Namun, di antara seluruh manusia yang pernah hadir di muka bumi, terdapat sosok yang kemuliaannya menjadi teladan bagi seluruh umat manusia di dunia dan di akhirat.
Beliau bukan hanya seorang Nabi dan Rasul, tetapi juga pribadi yang menunjukkan bagaimana seharusnya seorang manusia bersikap kepada Allah SWT, kepada keluarga, kepada sahabat, bahkan kepada orang-orang yang menyakitinya. Senyum beliau menenangkan, tutur katanya lembut, kejujurannya dipercaya, dan kasih sayangnya begitu luas. Kelahiran beliau menjadi cahaya bagi umat manusia, penyejuk jiwa, menerangi gelapnya kehidupan, menuntun hati yang tersesat menuju jalan kebenaran. Dialah Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan Allah SWT, sosok mulia yang kehadirannya menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia akhlaknya. Beliau lembut tanpa menjadi lemah, tegas tanpa menjadi kasar, rendah hati meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, dan pemaaf meskipun sering disakiti. Akhlak mulia beliau bukanlah sekadar kisah belaka yang dibaca dalam buku sejarah, melainkan sebuah suri teladan yang seharusnya kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau di angkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun. Sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman beliau memiliki sifat dan karakteristik yang tak terpisahkan dari diri seorang rasul yang membedakannya dari manusia biasa. Sifat-sifat wajib bagi para rasul itu adalah:
- Siddiq, (artinya benar/jujur).
- Amanah, (yang artinya dapat dipercaya).
- Tabliq, (memiliki makna yakni menyampaikan wahyu).
- Fathonah, (yang artinya yaitu cerdas, pandai dan bijaksana).
Allah SWT secara langsung memuji keluhuran budi pekerti utusan-Nya dalam kitab suci. Kemudian, pujian agung ini membuktikan bahwa perilaku nabi merupakan standar kebaikan tertinggi. Terkait hal ini, Sang Pencipta berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya : “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Kejujuran Menjadi Nilai Utama
Salah satu akhlak utama Rasulullah SAW adalah kejujuran. Sebelum diangkat menjadi rasul, beliau telah dikenal oleh masyarakat Makkah dengan sebutan Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya. Kejujuran Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa kepercayaan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Dikisahkan pada masa beliau masih tinggal di Kota Mekah, Orang-orang Quraisy lebih merasa percaya dan aman menitipkan barang miliknya kepada Rasulullah SAW daripada ke kerabatnya sendiri. Walaupun pada saat itu sebagian besar orang Quraisy masih membenci ajaran islam yang dibawakan oleh nabi, Namun mereka semua percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok manusia yang selalu berkata jujur dan tidak pernah berbohong.
Tetap Memaafkan Walau Sering Disakiti
Selain jujur, Rasulullah SAW juga memiliki sifat sabar dan pemaaf. Beliau menghadapi berbagai hinaan, penolakan, dan perlakuan buruk ketika menyampaikan ajaran Islam. Namun walaupun sering disakiti dalam menyampaikan kebenaran, beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, Rasulullah tetap menunjukkan kesabaran dan mendoakan kebaikan. Sikap tersebut menjadi pelajaran penting bagi kita agar tidak mudah marah dan mampu memaafkan kesalahan orang lain.
Pemimpin yang Rendah Hati dan Sederhana
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang rendah hati dan Sederhana. Meskipun beliau adalah seorang nabi dan pemimpin umat, beliau tidak pernah bersikap sombong. Beliau memperlakukan orang lain dengan penuh penghormatan dan kasih sayang. Walaupun pada masa itu Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin seperti halnya Raja, namun beliau tidak pernah hidup bermewah-mewahan, dan tidak pernah ingin diperlakukan lebih mulia daripada manusia yang lain. Bahkan saat sedang berkumpul dengan para sahabat, beliau tetap berpenampilan dan posisi beliau sama persis dengan para sahabat yang lain. Sehingga orang asing yang mencari beliau akan merasa kesusahan membedakannya.
Disegani bahkan oleh musuhnya
Ketika Rasulullah SAW mulai berdakwah. Suatu ketika, Abu Sufyan pergi ke wilayah Syam untuk berdagang. Pada saat itu, Kaisar Heraklius, penguasa Romawi, mendengar tentang munculnya seorang nabi di Makkah. Heraklius kemudian memanggil Abu Sufyan dan beberapa orang Quraisy untuk menanyakan tentang Nabi Muhammad SAW. Heraklius memberikan berbagai pertanyaan, di antaranya apakah Nabi Muhammad SAW pernah dikenal sebagai orang yang berdusta sebelum mengaku sebagai nabi, apakah pengikutnya semakin bertambah, apakah ada orang-orang terpandang yang mengikutinya, dan apakah beliau pernah mengingkari janji. Abu Sufyan yang saat itu masih menjadi musuh Rasulullah SAW menjawab bahwa Muhammad tidak pernah dikenal sebagai pendusta, pengikutnya semakin bertambah, orang-orang lemah banyak yang mengikutinya, dan beliau tidak pernah mengkhianati perjanjian. Bahkan Abu Sufyan yang pada saat itu sangat membenci pun tetap mengakui bahwa Rasulullah SAW Adalah manusia yang tidak pernah berdusta.
Meneladani Rasulullah SAW tidak harus selalu melalui hal-hal besar. Kita dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, seperti mengucapkan salam, berbicara dengan sopan, menghormati orang tua dan guru, membantu teman, menepati janji, serta menjaga perkataan agar tidak menyakiti hati orang lain. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi langkah nyata dalam mengikuti akhlak Rasulullah SAW.
Pada akhirnya, meneladani akhlak Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengetahui kisah kehidupan beliau, tetapi juga tentang menghidupkan nilai-nilai keteladanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kejujuran, kesabaran, kasih sayang, kerendahan hati, kesederhanaan dan sikap pemaaf mulai menjadi bagian dari diri kita, maka kita telah berusaha mengikuti jejak manusia paling mulia. Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW. Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan termasuk golongan orang yang dirindukan masuk surga bersama Rasulullah SAW.
Sumber :
Sirah Nabawiayah Syaikh Shafiyyurrahman AL-Mubarakfuri






