Dunia Akhirat “Kepenak” menurut KH. Idror Maimoen

KH. Idror Maimoen menyampaikan mauidloh hasanah

 

Menjadi sosok yang dicintai oleh Sang Pencipta atau sering disebut sebagai Wali Allah mungkin terdengar sebagai maqam (derajat) yang sangat tinggi dan sulit dicapai. Namun, tahukah Anda bahwa hakikatnya, menjadi “kekasih Allah” adalah jalan yang justru membawa ketenangan dan kenikmatan hidup yang tiada tara, baik di dunia maupun di akhirat?

 

Dalam mauidloh hasanah yang disampaikan oleh K.H Idror Maimoen di Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin pada Sabtu, 30 Mei 2026, beliau menyampaikan bahwa syarat menjadi wali Allah sebenarnya sangat sederhana. Kuncinya adalah mendapatkan taufik (pertolongan) dari Allah.

 

Keistiqomahan

 

Menjadi wali tidak selalu menuntut seseorang harus menjadi sosok yang sangat alim atau memiliki gelar keilmuan yang tinggi. Seringkali, rahasia utamanya terletak pada istiqamah.

 

Istiqamah dalam kebaikan, terutama dalam menjalankan ibadah wajib adalah yang utama. Tidak ada ibadah yang lebih dicintai Allah daripada menjalankan kewajiban (fardhu) dengan sepenuh hati. Ketika seseorang sudah mampu menikmati ibadahnya, maka kebaikan-kebaikan lain akan mengalir dengan sendirinya. Ia menjadi sosok yang setiap paginya seolah mendapat “kabar gembira” melalui ketenangan jiwa yang diberikan Allah melalui malaikat yang setiap pagi mendatanginya.

 

Warisan Terbaik untuk Keluarga

 

Banyak orang khawatir akan masa depan anak-cucunya. Namun, bagi mereka yang memegang teguh iman dan kebaikan, kekhawatiran itu tidak akan pernah terjadi. Mengapa? Karena janji Allah itu nyata bagi mereka yang menjaga kemuliaan diri.

 

Seorang mukmin yang cerdas adalah mereka yang paham bahwa warisan paling berharga untuk anak-cucu bukanlah harta yang menumpuk, melainkan budi pekerti yang luhur. Kebaikan orang tua, ibadahnya yang terjaga, serta tutur kata yang santun kepada sesama, akan menjadi “tabungan” yang dampaknya bisa terasa hingga tujuh keturunan, bahkan lebih. Seperti halnya Nabi Muhammad SAW yang pernah mengatakan bahwa diri beliau adalah doa dari Nabi Ibrahim AS, sebuah bukti bahwa kebaikan seorang hamba akan terus mengalir walau terpaut jarak yang sangat panjang.

 

Hidup dalam “Begjo” (Keberuntungan)

 

Dalam pandangan spiritual, sugih (kaya) tidak melulu diukur dari seberapa keras seseorang bekerja. Ada orang yang bekerja sangat keras namun rezekinya hanya cukup, sementara ada pula yang rezekinya melimpah walau dirinya tidak terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Inilah yang disebut dengan begjo atau keberuntungan.

 

Tanda seseorang berada dalam jalan kebaikan adalah ketika ia mampu meraih kecukupan tanpa harus mengorbankan ketenangan hidupnya. Ia adalah orang yang merasa cukup dan senantiasa bersyukur.

 

Ujian sebagai Penanda Kasih Sayang

 

Hidup sebagai orang beriman diibaratkan seperti padi; ia akan sering terkena angin, hujan, dan ujian. Namun, justru itulah yang membuatnya tetap berdiri tegak dan bernilai. Berbeda dengan mereka yang lalai (orang kafir), yang ibarat kelapa sekali jatuh, ia akan jatuh sejatuh-jatuhnya tanpa ada yang menopang.

 

Bahkan, rasa sakit atau kesulitan yang datang sesekali bukanlah kutukan. Bagi orang yang dijaga oleh Allah, kemaksiatan adalah sesuatu yang “mahal” harganya. Jika ia berbuat salah, hatinya akan merasa tidak tenang, sakit, atau gelisah sebuah peringatan halus agar ia segera kembali ke jalan yang benar.

 

Mengubah Beban Menjadi Kenikmatan

 

Puncak dari ibadah adalah ketika seseorang sudah mampu mencintai apa yang ia lakukan. Shalat lima waktu, puasa, dan amal saleh tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan yang menjadi kenikmatan.

 

Hakikatnya, kita beribadah karena kita sadar bahwa sumber kebahagiaan dan pemberi manfaat yang sejati hanyalah Allah. Dialah satu-satunya yang mampu menghilangkan kesusahan kita. Ketika seseorang sudah mencapai titik ini, dunia akan terasa begitu ringan, dan akhirat menjadi tujuan yang didambakan dengan penuh rasa syukur.

 

Jadi, sudahkah kita mulai melangkah? Semoga artikel ini menjadi penyemangat bagi kita semua untuk terus istiqamah dalam menebar kebaikan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Syarat Kurban Idul Adha: Panduan & Ketentuannya

Related Posts
Total
0
Share