Hai teman-teman! Pernahkah kalian mendengar tradisi haul? Bagi kamu yang tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, mungkin sudah tidak asing lagi dengan tradisi yang satu ini. Tapi bagi kalian yang ingin tahu lebih dalam, yuk kita simak!
Mengenal Istilah ‘Haul’
“Haul” dalam konteks agama Islam di Indonesia, khususnya di kalangan umat Nahdlatul Ulama, merujuk pada tradisi peringatan kematian seseorang yang biasanya diadakan setahun sekali. Meskipun dalam pelaksanaannya haul tidak selalu tepat pada tanggal wafatnya seseorang, melainkan disesuaikan dengan kesepakatan keluarga atau komunitas yang menyelenggarakannya.
Secara etimologi, kata “Haul” berasal dari bahasa Arab “الحول” yang memiliki makna “tahun”. Namun, masyarakat seringkali membacanya dengan kata yang sedikit berbeda dan justru melenceng dari makna aslinya, seperti “Khol, Khaul, Khoul atau hol”. Padahal jika dilihat dari tata bahasa Arab, jelas sangat berbeda dengan arti yang seharusnya dituju, lho!
Berikut beberapa kata yang mungkin perlu diketahui dalam pelafalan dan penulisannya, ialah:
- Haul (حول) artinya setahun.
- Khol (خال) artinya paman (saudara ibu).
- Haul (هول) artinya kengerian, kegentingan atau kecemasan.
- Khoul (خول) artinya mengatur.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan pelafalan kata shalat “Istikhoroh” (استخاره) yang maksudnya “meminta dipilihkan yang terbaik”, namun terkadang sebagian orang melafalkannya dengan “Istiharoh” (استحاره), yang justru artinya “Jatuh dalam kebingungan”. Satu contoh lainnya, seperti kata “ijabah” yang artinya “pengabulan” dalam berdoa dimaksudkan doa yang dipanjatkan dapat diterima, dikabulkan atau terjawab oleh Allah SWT. namun ada yang melafalkan “Hijabah”, padahal kata “Hijab” sendiri justru artinya adalah “penutup atau penghalang”.
Nah, maka dari itu, sangat penting untuk bagi kita untuk memperhatikan pelafalan atau penulisan supaya tidak salah kaprah!?
Tujuan Peringatan Haul
Acara haul ini, sebagai bentuk penghormatan dan bertujuan untuk mendoakan orang yang telah wafat agar segala amal ibadahnya diterima Allah SWT., sekaligus mengenang keteladanan dan kontribusi positif yang telah diberikan oleh orang tersebut semasa hidupnya. Bagi orang yang masih hidup di dunia, peringatan haul ini sebagai pengingat akan kematian, sebagaimana nasehat ulama “Wa Kafaa Bil Mauti Waa ’Idzan” yang artinya “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat”.
Haul dalam Pandangan Ulama dan Hikmah di Baliknya
Tradisi haul ini berkembang terutama dikalangan Muslim Sunni seperti Yaman, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Para ulama telah menyatakan bahwa tradisi haul tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Salah satu ulama besar, Ibnu Hajar pernah menuturkan dalam Fatawa al-Kubro Juz II hlm 18, bahwa para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul selama tidak ada yang meratapi sang ahli kubur sambil menangis.
Acara haul juga menjadi pembeda antara penghormatan kepada ulama dan Rasulullah, yang mana apabila Rasulullah diperingati hari kelahirannya melalui tradisi atau acara maulid sedangkan para ulama diperingati hari wafatnya melalui tradisi haul. Hal ini karena kelahiran Rasulullah merupakan keistimewaan yang telah dinanti dan dijanjikan dalam ajaran nabi-nabi sebelumnya serta diiringi dengan berbagai mukjizat, sementara keistimewaan ulama barulah nampak tergantung semasa hidup hingga wafatnya ulama tersebut.
Tradisi ini mengajak kita untuk dapat mengambil pelajaran hidup dari mereka yang telah mendahului kita sekaligus mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan yang suatu saat kita akan sampai pada ujungnya.
Peringatan Haul Pendiri Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin
Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin rutin menggelar peringatan haul yaitu KH. Muhammad Hasan setiap tanggal 4 Dzulhijjah. Kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang diikuti oleh seluruh santri, alumni, dan jamaah pondok pesantren Tanbihul Ghofilin sebagai bentuk penghormatan dan doa bersama untuk Sang Muasis.
Menjelang pelaksanaan haul, tepatnya 3 Dzulhijah, para santri mulai melaksanakan kegiatan semaan Al-Qur’an bilhifdzi di Makom. Sementara itu, di aula pondok, para santri lainnya menggelar muqodaman Al-Qur’an secara berjamaah.
Puncak acara berlangsung pada 4 Dzulhijjah. Pada pagi hingga sore hari, santri putri secara bergantian menyelesaikan semaan 30 juz Al-Qur’an di area makam bersama KH. Wahyudi. Di waktu yang sama, santri putra serta para alumni mengikuti kegiatan Bahtsul Masail yang dipusatkan di Gedung Auditorium.
Berlanjut pada malam harinya, digelar Tahlil dan Do’a bersama untuk mengenang K.H. Muhammad Hasan, serta mauidloh hasanah oleh Dr. K.H. Abdul Ghofur Maimoen, MA., dari Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Acara ini dipadati oleh puluhan ribu jama’ah yang datang berbondong-bondong dari berbagai daerah.
Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua. Sampai jumpa diartikel selanjutnya!
(lutfiani.sa)







