Suatu umat atau Masyarakat tidak akan mengalami kemajuan jika tidak membiasakan diri untuk menerapkan budi pekerti yang baik dan meninggalkan segala perilaku yang buruk. Akhlak atau budi pekerti yang baik sangat penting untuk diterapkan, karena tanpanya urusan politik, ekonomi dan pemerintahan tidak akan berjalan dengan baik.
Untuk menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik, diperlukan orang-orang yang mau berjuang untuk memperbaiki kondisi tersebut. Mereka harus berani menegakan revolusi akhlak, yaitu perubahan dalam hal sikap dan kebiasaan Masyarakat kearah yang lebih baik. Perubahan ini harus dimulai dengan memperbaiki kebiasaan buruk yang ada pada Masyarakat, dan menggantinya dengan nilai-nilai kebaikan.
Namun, dalam memperbaiki tatanan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Seseorang yang ingin melakukan perubahan harus mampu mengajak orang lain agar bersama-sama ikut berjuang. Karena hanya satu orang saja yang berusaha, maka perubahan yang besar akan sulit tercapai. Tidak hanya itu, kunci utama untuk menegakkan akhlak yang luhur adalah dengan cara revolusi kebudayaan. Sebab budaya yang buruk itu lebih mudah diikuti daripada kebudayaan yang baik.
Dalam kondisi seperti ini, sangat dibutuhkan kelompok yang memiliki akhlak baik untuk menjadi pelopor perubahan. Seperti dalam ungkapan
قيام افراد من الامة حسنت اخلاقهم
“Bangkitnya segolongan umat adalah yang baik akhlaknya”.
Kelompok ini adalah sekumpulan orang yang siap merasa lelah, sabar menghadapi tantangan, dan tidak berputus asa dalam berjuang. Perjuangan ini memang tidak ringan, namun akan berdampak besar.
Harapan besar ditunjukkan kepada para santri, agar kelak setelah Kembali dan hidup di Tengah Masyarakat, mereka bisa menjadi bagian dari kelompok pembawa perubahan ini. Santri diharapkan mampu menjadi “dokter akhlak” yang mampu menyembuhkan penyakit moral di Masyarakat.
Lalu bagaimana cara agar usaha perbaikan ini bisa berhasil? Salah satunya adalah dengan menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi Masyarakat. Kita perlu menyadari bahwa setiap lingkungan memiliki budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penyampaian nilai-nilai moral haruslah dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang lembut. Jika kita sudah memahami Masyarakat dengan baik, maka kitab isa mengerahkan kemampuan dengan tepat sasaran.
Susunlah strategi dengan cermat dan pertimbangan. Insyaallah hal ini membuat dakwah kita menjadi mudah diterima pada hati masyarakat. Karna dikhawatirkan apabila strategi yang tersusun tidak tepat, justru menimbulkan penolakan atau memperburuk keadaan.
Dalam upaya ini, kita bisa mencontoh cara kerja seorang dokter. Ketika mengobati orang yang sakit parah, dokter tentu tidak langsung memberi makanan berat. Namun ia akan memberikan asupan makanan bergizi secara perlahan lahan lah agar sang pasien tidak kaget. Begitu pula dengan Masyarakat, janganlah langsung diberi perubahan yang berat, namun berilah pemahaman secara perlahan sesuai dengan kemampuan mereka, hingga akhirnya mereka siap menerima perubahan.
Masyarakat kita saat ini sangat membutuhkan revolusi moral untuk memperbaiki keadaan dan bangkit dari kehancuran akhlak. Jika tidak ada yang peduli dan siap berkorban baik dalam waktu dan ilmunya untuk mengobati Masyarakat, maka kehancuran akan semakin menjadi-jadi. Disinilah pentingnya peran para remaja khususnya para santri. Mereka adalah “dokter-dokter Masyarakat” yang siap terjun di memperbaiki keadaan. Masa depan akan bergantung pada mereka.
Karena itu, jangan pernah menganggap bahwa kemaksiatan atau keburukan moral adalah hal lumrah. Jangan pula bersikap cuek atau egois terhadap kondisi sosial di sekitar kita. Sebaliknya, berlatihlah sejak dini untuk menjadi pribadi yang peduli, bermanfaat, dan diharapkan kehadirannya oleh masyarakat. Dengan begitu, kita bisa menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih bermartabat dan berakhlak mulia.
***








