REVOLUSI AKHLAK – Siapakah Sebenarnya Orang yang Sakit Itu? #1

Ngaji Bandongan Kitab Ngidzotun Nasyi'in bersama KH. Hakim Annaisaburi, Lc
Bandongan Kitab Ngidzotun Nasyi’in bersama KH. Hakim Annaisaburi, Lc

 

Siapakah Sebenarnya Orang yang Sakit Itu?

Kondisi sosial umat kita saat ini bisa dikatakan sedang “sakit”. Penyakit ini bukan penyakit fisik, tapi penyakit moral dan akhlak yang dampaknya jauh lebih besar. Oleh karena itu, masyarakat kita sebenarnya lebih butuh “obat akhlak” daripada obat untuk tubuh.

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata “sakit”? apakah kondisi badan yang pegal-pegal? Tidak enak? Atau kondisi Dimana tubuh sulit untuk bekerja sebagai mana mestinya? Namun ada yang lebih bahaya dari sakitnya fisik. Penyakit apakah itu?

Jika ada orang yang sakit fisik (badaniyah), akan dibawa segera oleh keluarganya ke dokter untuk diperiksa dan diberi resep. Tapi anehnya, ketika masyarakat menderita sakit akhlak dan mental, sangat jarang yang sadar lalu mencari “dokter” sehingga bisa menyembuhkan penyakit itu, yakni orang-orang yang ahli memperbaiki akhlak dan kondisi sosial.

karena dibiarkan begitu saja, penyakit moral ini semakin parah. Padahal kita, terutama para santri yang belajar di pesantren, tidak boleh diam melihat hal ini. Kalau kita tidak peduli, maka tidak akan ada lagi yang membawa kebaikan. Dan jika sudah tidak ada kebaikan di tengah manusia, maka itu menjadi tanda zaman semakin dekat pada kehancuran, bahkan datangnya Dajjal.

Saat ini, masyarakat lebih fokus menyembuhkan penyakit badan, namun mengabaikan penyakit jiwa dan akhlak. Itulah kenapa kondisi moral masyarakat kita semakin rusak. Maka kalau ingin memperbaiki masyarakat, kita harus mulai dengan memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu.

Cara menyembuhkan penyakit akhlak ialah dengan belajar. Belajar yang dimaksud yaitu belajar ilmu agama, dan akhlak. Dengan belajar inilah masyarakat akan paham arti “sakit” yang dimaksud. Dan tempat yang paling relevan saat ini untuk belajar ialah di pondok pesantren.

Mengherenkannya pada saat ini, masyarakat lebih fokus menyembuhkan penyakit badan, namun mengabaikan penyakit jiwa dan akhlak. Itulah kenapa kondisi moral masyarakat kita semakin rusak. Maka kalau ingin memperbaiki masyarakat, kita harus mulai dengan memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu.

Maka santri seharusnya hadir menjadi “dokter akhlak” bagi Masyarakat. Belajar di pesantren bukan hanya soal ilmu, tapi juga pembinaan akhlak. Meskipun jumlah santri lebih sedikit daripada Masyarakat umum, setidaknya mereka bisa menjadi penggerak perbaikan walau sedikit demi sedikit.

 

Dikutip dari pengajian bandongan Kitab Ngidotun Nasi’in bersama K.H Hakim Annaisaburi, Lc. Untuk kajian selengkapnya bisa diakses pada link berikut

https://www.youtube.com/live/AR5NxTnYN2U?si=vaCLkP9dqtD8QNUb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Amalan dan Do’a Malam Nifsu Sya’ban

Next Post

Memahami Makna, Sejarah, dan Tatacara Ibadah Kurban

Related Posts
Total
0
Share