Cinta terindah yaitu ketika mampu mendoakan orang yang dicintai

TanbihulGhofilin.com – Berdasarkan sebuah hadits qudsi dari Rasulullah SAW bahwa hamba yang paling mulia bukanlah malaikat ataupun para sahabat. Rasulullah sampai tertunduk ketika tebakan para sahabatnya tidak tepat mengenai yang mana hamba-Nya terpaling mulia. Beliau terdiam, lalu meneteskan air mata dan berkata,

“Hamba Allah yang paling mulia adalah umat-umatku yang tidak pernah mendengar ucapan-ucapanku, tidak pernah dekat denganku, tetapi sangat mencintai dan merindukanku.” Kemudian disambung dengan perkataan, “

Tidak mereka saja yang rindu padaku, tapi aku juga sangat rindu ingin bertemu dengan mereka.”
Sampai sini bisa diketahui bahwa begitu cintanya Rasulullah kepada para umatnya yang padahal tidak ditemuinya dan merindukan umatnya yang belum tentu kesemuanya merasakan rindu padanya.
Pada saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pondok pesantren Tanbihul Ghofiliin mengadakan acara sederhana berupa shalawat bersama sebagai bentuk kecintaan para santri kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang diadakan pada malam hari ini menambah khidmat suasana acara yang dimulai dengan pembacaan maulid barzanji secara serempak.
Berbeda dengan maulid nabi biasanya yang menceritakan kelahiran beliau, KH. Hakim Annaisaburi, Lc selaku pengasuh pondok putri Tanbihul Ghofilin berkesampatan untuk mengisi mau’idloh khasanah dengan mengangkat tema cinta.

Dikatakan bahwa, “Cinta terindah yaitu ketika mampu mendoakan orang yang dicintai”. Yaitu bukan cinta yang menuruti hawa nafsu maupun yang untuk mewujudkan keinginan. Rasulullah SAW telah dicukupkan rahmat oleh Allah SWT, lalu kenapa kita bershalawat kepadanya? Karena sebenarnya bukan beliau yang membutuhkan untuk didoakan oleh para umatnya, melaikan umat-umatnya lah yang membutuhkan balik rahmat daripada hal tersebut. Tidak ada ruginya memperbanyak shalawat, sebab kembalinya rahmat tersebut kepada yang bershalawat.


Baca juga :

Perlu diketahui, bahwa sholawat merupakan salah satu bentuk daripada birrul walidain. Setiap sholawat yang dilontarkan akan dilaporkan malaikat kepada Nabi SAW. Maka, secara otomatis orang tua dari orang yang bershalawat juga akan diberi syafa’at pula oleh beliau.
Rasa cinta sendiri dibagi menjadi dua, yakni cinta tobi’ dan cinta ikhtiyari.

Cinta tobi’ adalah cinta murni yang Allah berikan kepada seluruh makhluk, termasuk binatang. Pada makhluk berupa binatang, cinta ada seperti pada induk yang membesarkan anak-anaknya dengan baik. Sedangkan pada manusia, tidaklah normal manusia yang tidak terdapat cinta dalam dirinya.


Cinta yang tumbuh karena dilatar belakangi dari adanya kepentingan disebut dengan cinta ikhtiyari. Cinta jenis ini dibagi menjadi empat:
1. Cinta karena kita perlu mengambil manfaat daripadanya, seperti halnya cinta seorang bawahan kepada atasannya sebab memiliki kepentingan agar tidak dipecat
2. Cinta karena qorobah (kekerabatan), misalnya cintanya seseorang yang semakin tumbuh ketika adanya jarak yang menjadikannya jauh dan semakin merindu, seperti santri kepada orang tuanya yang lama tidak bertemu dan pulangnya
3. Cinta karena ingin mendapatkan keutamaan, sama halnya dengan cinta seorang murid terhadap guru dan orang tuanya
4. Cinta kepadaa Allah dan Rasulullah SAW. Ini merupakan cinta yang paling utama.
Untuk selanjutnya, bisa direnungkan, apakah kita sebagai umat beliau sudah sungguh-sungguh mencintai beliau? Atau hanya mulut yang mampu berkata cinta namun hati tidak merindukannya? Demikian cintanya Rasulullah SAW kepada umatnya dan rindu ingin bertemu dengan umat beliau yang sama sekali belum pernah ditemuinya. Umat yang dikatanya adalah hamba Allah yang paling mulia, yaitu umat nabi SAW yang hidupnya pada zaman setelah wafatnya beliau, tanpa pernah melihat nabi SAW dan mendengarkan suara beliau namun mencintai dan merindukannya.

Termasukkah kita ke dalam kriteria tersebut? Apabila seseorang mencintai orang lain, pastilah segala sesuatu akan dilakukannya supaya orang yang dicintai dapat berbalik mencintai juga. Dalam hal ini, sudahkah kita melakukan hal yang dapat menjadikan Rasulullah mencintai kita pula?
Termasuk yang dicintai beliau, adalah remaja yang hidupnya untuk taat kepada Allah SWT dan yang menjalankan sunnah-sunnahnya. Semakin banyak kesunnahan yang dlakukan seseorang, maka semakin cinta Nabi SAW, kemudian semakin cinta jua Allah SWT, dan semakin cinta seluruh makhluk pada orang tersebut.
Menyikapi ini semua, mari perbanyak berbuat baik dan melakukan sunnah-sunnah Rasulullah mulai dengan hal sederhana seperti doa-doa keseharian serta berbagai shalat sunnah rawatib, maupun perbuatan lainnya yang akan menjadikan beliau berbalik mencintai juga. Mencintai dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar lontaran kata sahaja. Memperbaiki diri, menjadi hamba Allah SWT yang paling mulia di sisi-Nya.( Yunita )

1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
pejuang berpeci

Puisi dari Kiaiku

Next Post
umkm santri

Aksi Kreatif Cipta Usaha Santri

Related Posts