BUKAN TENTANG USIA

Bukan Tentang Usia

Dikenal dengan predikat “terlama mondok” dikalangan santri putri, tak membuatnya merasa malu. Justru atas pertimbangan dan di usia mondok yang saat ini telah mencapai 12 tahun, semangatnya untuk mengaji semakin membara dengan khidmahnya yang besar. Ialah Nur Salamah atau kerap disapa Mba Nur.

Harapan untuk meneruskan sekolah diluar pun pupus, selepas sang ayah menyuruhnya melanjutkan pendidikan di pondok pesantren.
“Dulu, waktu masih kecil, saya sering diajak mbah ke pengajian ahad kliwon di pondok pesantren yang ada di Mantrianom. Lalu seketika itu saya berkeinginan mondok disana.” Tuturnya.
Akhirnya, tahun 2007 ia resmi masuk pondok pesantren.

Berbeda dengan yang lain, ia mengaku langsung merasa betah. Setengah tahun di pondok, ia menjadi pribadi yang rajin, disiplin, dan mandiri. Kemudian ia memilih untuk berkhidmah membantu ndalemnya Abah Hayatul Makki.
Berhubung pada tahun itu belum didirikan sekolah formal, wanita kelahiran Purwonegoro tersebut melanjutkan sekolah di MAN 2 Banjarnegara.

Tak mudah baginya menjalankan kegiatan pondok sekaligus kegiatan sekolah diluar yang padat. Karena itu, ia harus pandai-pandai membagi waktu antara mengaji dan sekolah.
Uniknya, saat teman-temannya membawa gadget ke sekolah, mba Nur justru membawa kitab dan menyempatkan hafalan jika ada waktu luang di kelas. Terkadang, teman-temannya sangat kepo dengan kehidupannya di podok pesantren.

Setelah selesai menempuh pendidikan formal, ia di amanahi untuk menjadi staf tata usaha di MA Tanbihul Ghofilin sejak 8 tahun silam. “Saat ini kegiatan saya sepenuhnya diruang TU”. Tuturnya.
Berbagai macam lika-liku kehidupan mba Nur telah dilaluinya semenjak 12 tahun tholabul ‘ilmi di pesantren. Pernah terbesit dipikirannya untuk melanjutkan kuliah. Tetapi hal tersebut langsung ditepis oleh rasa khidmahnya yang lebih besar dibandingkan keinginannya.

Mungkin banyak yang bertanya alasan mba Nur tetap bertahan di pondok. Sambil tersenyum, ia menjawab bahwa tujuannya bertahan di pondok sangat sederhana. Yaitu, berharap mendapat ridho dari para masayikh atas segala hal yang dilakukannya di pondok pesantren. Tanpa ridho tersebut, belum tentu ilmu yang didapatkan menjadi berkah dan bermanfaat.

Alasan yang sederhana namun maknanya sangat berpengaruh baginya. Keinginan dan rasa khidmahnya yang lebih besar juga menjadi alasan untuk tetap bertahan.
Terbukti ia selalu mendapatkan juara berturut turut saat kelas sifir tsalis hingga tsanawi, maka prestasinya tak diragukan lagi, walaupun prestasi disekolah ia akui kurang memuaskan.
Tidak mencicipi bangku kuliah tak membuatnya patah semangat. Menurutnya, khatam ngaji alfiyah sama saja seperti menamatkan kuliah. Dan itupun sudah cukup membahagiakan kedua orang tuanya. Terkadang rasa lelah dan jenuh mengusiknya.

Namun, mba Nur selalu intropeksi diri dengan memandang ke atas. Ia yakin bahwa kelak semuanya akan membuahkan hasil yang manfaat dan lillah. Baginya, tidak ada batasan untuk mengaji. Mengaji pun tak mengenal batas usia.
Secuil harapannya untuk adik – adik santri, semoga mereka termotivasi dengan pengabdiannya di pondok pesantren serta menjadi santri persegi yang tak hanya bisa mengaji, namun mampu melakukan hal-hal lain dari segala sisi. (alya aqila)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
gus ulil albab

SEBUAH PISAU YANG TAJAM

Next Post

WANITA DAN KARIR

Related Posts